Langsung ke konten utama

Barisan porsenaf

Entah berapa tetes peluh yang jatuh. Dibawah terik, mereka berjalan beriringan. Tak ada yang kenal satu-satu dari mereka kecuali teman-temannya, orang tua, dan keluarga, serta mungkin pacarnya. Tak ada berita di televisi khusus untuk mereka, atau cerita di koran-koran. Tapi cukuplah semangat kebanggaan membawa panji kepercayaan fakultas. Cukuplah keceriaan menjadi jawaban dan persahabatan menjadi kunci dari kebahagiaan. Selamat bertanding.

Komentar

rempah rempih mengatakan…
itulah hebatnya generasi kita! yang memang seharusnya berjuang tanpa pamrih demi masa depan nanti

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Tahun Baru

Terkadang kita merasa bisa menandai waktu dan mengaturnya.  Seperti misalnya menandai Hari, Minggu, Bulan, dan Tahun.  Hingga setiap pergantiannya seolah-olah memberikan sesuatu yang berbeda.  Seperti hari ini, mungkin banyak yang sedang bersiap menyambut pergantian tahun dari Tahun 2019 ke Tahun 2020. Sadar atau tidak, sesungguhnya kita tak pernah benar-benar bisa mengatur waktu.  Kita hanya hidup dalam waktu itu.  Waktu terus berjalan setiap detiknya tanpa bisa kita hentikan.  Hari akan terus berganti satu hari demi satu hari, melewati bulan dan melewati tahun.  Tanda pergantian hari, minggu, bulan, bahkan tahun hanyalah catatan-catatan yang membantu kita hidup dalam waktu. Maka pergantian tahun tampaknya lebih tepat dinilai sebagai penanda, bahwa sudah saatnya detik-detik yang kita lewati dilihat kembali.  Apa sebenarnya yang sudah kita lakukan, baik atau buruk, manfaat atau tidak bermanfaat.  Berapakalipun tahun berganti, ia hanyal...

Dinginpun bersujud bersamaku

Lama tak merasakan langsung sentuhan embun pagi di kaki gunung. Menempa diri pada tepukan daun-daun basah dan dzikir perdu yang rindu akan mentari. Menepi diantara pepohonan, menikmati bertafakur pada sehelai bifak sederhana. Cahaya lilin sudahlah teramat terang, maka jika hujan datang dan seluruh nyala sirna, semua rasanya biasa saja. Hening, anggun dan sakral. Berhadapan dengan-MU, kapan dan dimanapun aku adalah kepastian. Tapi di tempat yang luas-dimana rasanya aku melihat seluruh mayapada-, aku seperti begitu dekat dengan-Mu. Seperti dekat, terdekap, dalam kasih sayang-Mu yang tak berbatas. Dan tetes air mataku tentu saja bersama dzikir dan istighfar tak putus. Sudah lama memang, tak menyatu aku dengan tanah, pepohonan, dan suara burung di malam hari. Menemani cengkerik yang bermain. Menggenapinya dengan tilawah di keheningan malam. Di bawah mihrab langit-Mu, tertunduk aku. Menyungkurkan seluruh tubuhku, bersujud, mencium tanah-Mu, pasrah, kecil, tak berarti. Di bawah mihr...

Semesta : Rumah Kita

Rumah, ruang, tempat tinggal, kamar, atau apapun itu adalah tempat kita 'merasa' berada di dalam dan 'berkuasa'. Tak sedikit manusia menghabiskan anggarannya 'hanya' untuk meninggikan rumah miliknya, mempercantik kamar, ruang, atau bahkan mungkin kamar mandi. Maka, tanpa disadari, tiba-tiba menjadilah 'diri' sebenarnya sedang mulai 'tertawan' dalam ruang, kamar, rumah, kamar mandi, atau apapun itu. Maka perlahan, menjauhlah semesta, langit, bumi, gunung, hutan, bintang, dan hujan seolah berada di sisi yang lain, di tepi yang lain, di 'luar' rumah, ruang, kamar, atau apapun itu namanya. Bukankah kita perlu merasa bahwa rumah, rung, kamar mandi, dan tempat kita berdiri, berpijak, duduk, jongkok, bersembunyi, adalah bagian semesta raya. Kita tetaplah tinggal di bawah langit dan di atas bumi. Rasa 'kemenyatuan' ini perlu dibangun, agar kita tak lagi merasa di tepi yang lain dari kolong langit dan hamparan bumi. Kita perlu selalu ...