Langsung ke konten utama

Jejak Kaki

Setiap kali waktu menunjukkan rasa lapar, atau resah karena perut berderit memanggil. Maka di antara lorong kantor yang hening, ada jejak kaki melangkah menawarkan pertolongan. Lebih dua puluh lima kilo makanan di 'sunggi' di atas kepalanya.
Aku memanggilnya 'yu ne'. Sejenak ia akan berhenti di depan pintu ruangan, menurunkan bebannya, dan dengan cekatan mengambil plastik untuk bungkus makanan yang kubeli. Sesekali bercerita tentang kehidupannya yang keras, atau suaminya yang tak bekerja. Lebih dari itu, kaki yang terlalu sering tak beralas itu memang tampak sudah mengalami asam garam kehidupan.
Aku sering bertanya tentang perkembangan anak kecil, atau sekedar bertanya ramuan tradisional untuk bayi yang sedang sakit. Ia menjawab dengan semangat dan gembira.
Seiap dia datang, setiap dia pergi, aku seperti diingatkan untuk bersyukur, atas hidupku, dan tentu saja seperti diingatkan untuk mendoakannya, dalam langkah yang tentu akan tergerus zaman. Yu ne, semoga 'jajanan' yang kau 'sunggi' itu, laku hari ini dan berkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinginpun bersujud bersamaku

Lama tak merasakan langsung sentuhan embun pagi di kaki gunung. Menempa diri pada tepukan daun-daun basah dan dzikir perdu yang rindu akan mentari. Menepi diantara pepohonan, menikmati bertafakur pada sehelai bifak sederhana. Cahaya lilin sudahlah teramat terang, maka jika hujan datang dan seluruh nyala sirna, semua rasanya biasa saja. Hening, anggun dan sakral. Berhadapan dengan-MU, kapan dan dimanapun aku adalah kepastian. Tapi di tempat yang luas-dimana rasanya aku melihat seluruh mayapada-, aku seperti begitu dekat dengan-Mu. Seperti dekat, terdekap, dalam kasih sayang-Mu yang tak berbatas. Dan tetes air mataku tentu saja bersama dzikir dan istighfar tak putus. Sudah lama memang, tak menyatu aku dengan tanah, pepohonan, dan suara burung di malam hari. Menemani cengkerik yang bermain. Menggenapinya dengan tilawah di keheningan malam. Di bawah mihrab langit-Mu, tertunduk aku. Menyungkurkan seluruh tubuhku, bersujud, mencium tanah-Mu, pasrah, kecil, tak berarti. Di bawah mihr...

Selamat Pagi Unsoed

Sebelum matahari menunjukkan kegarangannya, atau hujan mengguyur di rintik pagi yang beku, Unsoed sudah bergerak. Ada tarian sapu lidi menjuntai-juntai indah. Menyapu setiap sisi halaman kantor dari dedaunan kering dan kotoran. Tarian sapu ijuk menyapu tangguh setiap ruangan di setiap bagian. Ada tangan-tangan kekar membersihkan kaca, mengelap dengan sepenuh keikhlasan. Peluh sudah menetes pagi itu, sebelum seluruh karyawan masuk dan tinggal menikmati seluruh kebersihan itu. Mereka tak pernah tampak, bahkan mungkin keberadaannya jarang diperhitungkan. Tapi dari tangan-tangan para lelaki berkostum orange inilah kebersihan menjelma nyata di Unsoed. Adalah hal yang tidak terlalu berat kiranya, bila setiap hari menyapa mereka dengan senyum yang tulus, tatapan yang penuh kasih, dan perhatian yang sungguh. Menghargai mereka adalah salah satu kemuliaan yang mungkin bisa segera diwujudkan. Semua manusia diciptakan sama. Dan mereka telah menjalankan perannya dengan begitu gigih, bermand...

Barisan porsenaf

Entah berapa tetes peluh yang jatuh. Dibawah terik, mereka berjalan beriringan. Tak ada yang kenal satu-satu dari mereka kecuali teman-temannya, orang tua, dan keluarga, serta mungkin pacarnya. Tak ada berita di televisi khusus untuk mereka, atau cerita di koran-koran. Tapi cukuplah semangat kebanggaan membawa panji kepercayaan fakultas. Cukuplah keceriaan menjadi jawaban dan persahabatan menjadi kunci dari kebahagiaan. Selamat bertanding.