Klik dan alirkan penghasilan anda

Dinginpun bersujud bersamaku

Rabu, 14 Juli 2010

Lama tak merasakan langsung sentuhan embun pagi di kaki gunung. Menempa diri pada tepukan daun-daun basah dan dzikir perdu yang rindu akan mentari. Menepi diantara pepohonan, menikmati bertafakur pada sehelai bifak sederhana. Cahaya lilin sudahlah teramat terang, maka jika hujan datang dan seluruh nyala sirna, semua rasanya biasa saja. Hening, anggun dan sakral.

Berhadapan dengan-MU, kapan dan dimanapun aku adalah kepastian. Tapi di tempat yang luas-dimana rasanya aku melihat seluruh mayapada-, aku seperti begitu dekat dengan-Mu. Seperti dekat, terdekap, dalam kasih sayang-Mu yang tak berbatas. Dan tetes air mataku tentu saja bersama dzikir dan istighfar tak putus.

Sudah lama memang, tak menyatu aku dengan tanah, pepohonan, dan suara burung di malam hari. Menemani cengkerik yang bermain. Menggenapinya dengan tilawah di keheningan malam. Di bawah mihrab langit-Mu, tertunduk aku. Menyungkurkan seluruh tubuhku, bersujud, mencium tanah-Mu, pasrah, kecil, tak berarti.

Di bawah mihrab langit-Mu. Bersama kerlip bintang, atau mungkin gelap langit malam bersama rintik hujan, aku seperti menyatu dengan mereka, berdzikir.

Bukit berjajar abu-abu samar di balik pekat malam. Kembali aku sujudkan keningku bersentuhan langsung dengan tanah-Mu, dingin, lembut, anggun, dan sakral.
Tak terasa biasanya perjalanan panjang yang kutempuh, tak ada peluh. Hanya ada tetes dzikir, dan desah ketundukan.



Siang

Minggu, 11 Juli 2010

Matahari bersembunyi, nafasku tersengal. Bukan karena aku berlari, dadaku sesak. Ada permusuhan, ada yang saling menghujat, ada yang saling merasa benar. Ah, begitu tidak indah jadinya bumi ini, begitu sempit rasanya

Do'a : Melawan Keterbatasan

Rabu, 30 Juni 2010

...Jarak selalu memperlakukan rindu kita seperti ini...

Aku tak pernah tahu, saat kutitipkan pesan itu pada angin yang merangkak melewati butiran hujan apakah sampai kepadamu. Aku hanya tahu, do'a-do'a yang kupanjatkan membuatnya lebih baik. Sebab aku dan kau sama-sama tahu, ini bukan semata-mata tentang kita, tapi tentang-Nya tentu saja.
Seperti biasa, kita akan mentafakuri ketidakberdayaan kita sebagai manusia ini. Jarak, waktu, rindu, cinta, semesta raya, berada di luar jangkauan dua tangan kita yang rapuh dan langkah kaki kita yang terbatas.
Ya, kita memang penuh keterbatasan. Dan untuk merengkuh semua hal di luar keterbatasan itu, maka kita butuh ketidakterbatasan. Sedangkan ketidakterbatasan hanyalah milik-Nya. Tapi kita punya caranya, kita telah diberi kuncinya. Cara dan kunci itu bernama: Do'a. Do'a adalah senjata kita yang mampu menembus segala keterbatasan. Do'a yang akan merengkuh semua hal di luar yang terbatas.
Seperti itu pula jarak, rindu, dan cinta
kita bisa merengkuhnya dengan do'a

Semesta : Rumah Kita


Rumah, ruang, tempat tinggal, kamar, atau apapun itu adalah tempat kita 'merasa' berada di dalam dan 'berkuasa'. Tak sedikit manusia menghabiskan anggarannya 'hanya' untuk meninggikan rumah miliknya, mempercantik kamar, ruang, atau bahkan mungkin kamar mandi. Maka, tanpa disadari, tiba-tiba menjadilah 'diri' sebenarnya sedang mulai 'tertawan' dalam ruang, kamar, rumah, kamar mandi, atau apapun itu. Maka perlahan, menjauhlah semesta, langit, bumi, gunung, hutan, bintang, dan hujan seolah berada di sisi yang lain, di tepi yang lain, di 'luar' rumah, ruang, kamar, atau apapun itu namanya.
Bukankah kita perlu merasa bahwa rumah, rung, kamar mandi, dan tempat kita berdiri, berpijak, duduk, jongkok, bersembunyi, adalah bagian semesta raya. Kita tetaplah tinggal di bawah langit dan di atas bumi. Rasa 'kemenyatuan' ini perlu dibangun, agar kita tak lagi merasa di tepi yang lain dari kolong langit dan hamparan bumi. Kita perlu selalu merasa menjadi satu dengan mereka, sama-sama yang diciptakan-Nya.
Semoga dengan begitu, mengalirlah cinta tanpa syarat untuk semesta, ya, sebab semesta ini adalah rumah kita

Jejak Kaki

Selasa, 29 Juni 2010

Setiap kali waktu menunjukkan rasa lapar, atau resah karena perut berderit memanggil. Maka di antara lorong kantor yang hening, ada jejak kaki melangkah menawarkan pertolongan. Lebih dua puluh lima kilo makanan di 'sunggi' di atas kepalanya.
Aku memanggilnya 'yu ne'. Sejenak ia akan berhenti di depan pintu ruangan, menurunkan bebannya, dan dengan cekatan mengambil plastik untuk bungkus makanan yang kubeli. Sesekali bercerita tentang kehidupannya yang keras, atau suaminya yang tak bekerja. Lebih dari itu, kaki yang terlalu sering tak beralas itu memang tampak sudah mengalami asam garam kehidupan.
Aku sering bertanya tentang perkembangan anak kecil, atau sekedar bertanya ramuan tradisional untuk bayi yang sedang sakit. Ia menjawab dengan semangat dan gembira.
Seiap dia datang, setiap dia pergi, aku seperti diingatkan untuk bersyukur, atas hidupku, dan tentu saja seperti diingatkan untuk mendoakannya, dalam langkah yang tentu akan tergerus zaman. Yu ne, semoga 'jajanan' yang kau 'sunggi' itu, laku hari ini dan berkah.

Selamat Pagi Unsoed

Rabu, 06 Agustus 2008

Sebelum matahari menunjukkan kegarangannya, atau hujan mengguyur di rintik pagi yang beku, Unsoed sudah bergerak. Ada tarian sapu lidi menjuntai-juntai indah. Menyapu setiap sisi halaman kantor dari dedaunan kering dan kotoran. Tarian sapu ijuk menyapu tangguh setiap ruangan di setiap bagian. Ada tangan-tangan kekar membersihkan kaca, mengelap dengan sepenuh keikhlasan. Peluh sudah menetes pagi itu, sebelum seluruh karyawan masuk dan tinggal menikmati seluruh kebersihan itu.
Mereka tak pernah tampak, bahkan mungkin keberadaannya jarang diperhitungkan. Tapi dari tangan-tangan para lelaki berkostum orange inilah kebersihan menjelma nyata di Unsoed.
Adalah hal yang tidak terlalu berat kiranya, bila setiap hari menyapa mereka dengan senyum yang tulus, tatapan yang penuh kasih, dan perhatian yang sungguh. Menghargai mereka adalah salah satu kemuliaan yang mungkin bisa segera diwujudkan.
Semua manusia diciptakan sama. Dan mereka telah menjalankan perannya dengan begitu gigih, bermandi peluh dan lelah. Bukankah ucapan terimakasih adalah tanda bahwa kita tetap[ merasa sama dengan mereka sebagai manusia biasa.

Barisan porsenaf

Selasa, 05 Agustus 2008

Entah berapa tetes peluh yang jatuh. Dibawah terik, mereka berjalan beriringan. Tak ada yang kenal satu-satu dari mereka kecuali teman-temannya, orang tua, dan keluarga, serta mungkin pacarnya. Tak ada berita di televisi khusus untuk mereka, atau cerita di koran-koran. Tapi cukuplah semangat kebanggaan membawa panji kepercayaan fakultas. Cukuplah keceriaan menjadi jawaban dan persahabatan menjadi kunci dari kebahagiaan. Selamat bertanding.